Selasa, 09 Desember 2014

SURAT SITI INAYA WATI KEPADA MUH.NADIR



SURAT SITI INAYA WATI KEPADA MUH.NADIR
Surat panjang itu ditulis dengan kepedihan mendalam dengan bekas-bekas tetesan air mata.
          Nadir berkata kepada Naya “Jika engkau sudi menjadi istri Datuk Maringgih, maka selamatlah aku, tak masuk ke dalam penjara. Namun jika kau tak sudi, maka sekalian yang kita miliki itu akan menjadi miliknya”. Mendengar perkataan ayahku ini, hancur luluh rasa jantungku, lalu menangislah aku, dan tiada terjawab perkataan ayah sepatah pun karena dadaku bagai pecah dan leherku bagai terkunci. ……..
          Tatkala kulihat ayahku akan dibawa ke dalam penjara, sebagai seorang penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku dan hilanglah pikiranku dan dengan tiada kuketahui, keluarlah aku lalu berteriak: “Jangan penjarakan ayahku! Biarlah aku jadi istri Datuk Maringgih !……………………………………...
          Barangkali tak dapat kaupikirkan Samsu, bagaimana hancur hatiku sekarang ini. Pertama karena telah mangkir janji kepadamu dan memutuskan pengharapanmu; kedua karena terpaksa duduk dengan seorang-orang yang sebagai Datuk Maringgih itu, iblis tua yang sangat kubenci. Tiadalah yang dapat kupandang padanya. Sungguh kaya
rupanya sama dengan hantu pemburu, bangsanya, ya Allah, asalnya penjual ikan asin, tabiatnya lebih daripada tabiat binatang, kelakuannya kasar dan bengis.Kepada orang yang semacam itu aku harus menyerahkan diriku, hidup bersama-sama. Cobalah kaupikir,Sam …..…………………………………………………………………………………………………… hingga ini dulu kekasihku. Kelak, jika masih ada hayat dikandung badanku, kusambunglah pula cerita yang malang ini, asal kau masih sudi melihat bekas tanganku yang akan melukiskan untungku yang celaka ini. Barangkali juga aku tidak boleh lagi memanggil engkau kekasihku, tetapi menjadi abangku, barang kali masih suka dan sambutlah peluk cium dari adikmu yang sengsara ini.”

  Satu bagian dalam buku ini hanya berisi surat Sitti Inaya Wati yang sangat menyedihkan. Karena kerinduan yang mendalam, Sitti Inayawati nekat menyusul kekasihnya ke Jakarta.


AKHIR KISAH SALAH ASUHAN

Sepeninggal Corrie, Hanafi seperti orang gila. Pernah ia tidur di kuburan Corrie sambil berbicara seorang diri. Kemudian ia pulang ke Jakarta. Setelah segala hartanya dijual, maka ia memutuskan untuk pulang ke Padang. Hanafi masih  memiliki 3 orang dekat yang berada di kampung halaman, di Solok, yaitu: ibunya, Syafei  anaknya, dan mantan isterinya Rafiah. Dalam duka dan putus asa, Hanafi pulang ke kampung halamannya. Demi bertemu dengan Syafei, digendongnya anaknya itu. Melihat hal itu, Rafiah yang tidak menghiraukan Hanafi menjadi marah. Direntakkannya Syafei dari tangan Hanafi dan larilah Rafiah menjauhi Hanafi. Bahkan ibunya berkata bahwa Hanafi belum boleh pulang ke tanah kelahirannya sebelum mendapat izin dari ninik mamak.
Luka hati orang-orang terdekat dan kaum keluarganya sudah sangat parah. Kalau dulu, Hanafi hanya merasa ditolak oleh ninik mamaknya karena melanggar adat Minang, dan ditolak orang kulit putih karena dipandang rendah martabatnya, kini Hanafi ditolak oleh orang-orang yang dulunya paling dekat dengan dirinya, paling mengerti pada dirinya, dan yang dulu paling menghormati dirinya. Tubuhnya bagai  tersepak ke lumpur paling dalam. Karena itu, di rumahnya di Kota Anau,  ia masuk kamar dan meminum pil sublimat. Bunuh diri. Inilah tindakan terakhir orang yang tidak memiliki adat dan lembaga, dan merasa tidak diberi harapan oleh Tuhan. Bunuh diri. Betapa nistanya perbuatan ini. Ibu Hanafi menyadari bahwa anak lelakinya semata wayang adalah korban “salah asuhan”.  Karena itu, pada akhir cerita dikisahkan bahwa Syafei anak Hanafi, cucu Sang Ibu, disekolahkan ke Jakarta dan kemudian direncanakan untuk sekolah di Eropa, dengan berbagai nasihat bahwa ia harus tetap orang Minang, orang Indonesia, orang Timur, dan jangan sampai menjadi sepuhan Barat. Roman Salah Asuhan merupakan kritik kepada masyarakat Indonesia pada zaman penjajahan dulu yang sering kali bersikap  lupa daratan, kebarat-baratan, bahkan lebih barat dari  orang barat (dalam hal yang tidak baik). Hal ini mendatangkan malapetaka seperti yang dialami Hanafi.

BAGIAN DARI NOVEL LAYAR TERKEMBANG
Surat Tuti kepada Supomo, lelaki terakhir yang tidak mungkin ada gantinya karena usianya sudah tua (untuk ukuran waktu itu l.k. 27 tahun).
Supomo, terhadap cintamu yang mulia dan suci itu, yang lahir dari hatimu yang lembut dan penuh kasih sayang, saya tiada dapat memberikan cinta yang setara dengan itu. Hatiku kosong…kosong, maka jika kuterima cintamu itu, penerimaan itu niscaya hanya mencari pengisi kekosongan saja.  Saya tidak layak mempermain-mainkan cintamu yang mulia itu, Supomo… Saya tidak dapat memberikan cinta yang kaudambakan itu kepadamu. Supomo, kepadamu kuucapkan selamat bahagia, pasti nanti akan bersua dengan orang yang dapat membalas cintamu. Meski bagaimana sedih dan meratap jiwa saya, namun sedikitpun aku tidak bermaksud mempermain-mainkan kau. Selamat bahagia, aku akan tetap menjadi saudaramu yang akan senantiasa bersedia membantumu dengan tulus dan ikhlas…”
Maria gelisah karena tubuhnya tidak kuat lagi, dan dirasa bahwa maut akan menjemputnya, maka dalam suatu kesempatan Yusuf dan Tuti menengoknya, Maria memberanikan diri untuk berkata :
“Alangkah berbahagia saya rasanya di akhirat nanti, kalau tahu, bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya dalam beberapa hari ini. Inilah permintaan saya yang penghabisan dan saya, saya tidaklah rela selama-lamanya, kalau kakandaku masing-masing mencari peruntungan pada orang lain …”

            Kata-kata Maria itu ditolak oleh Tuti. Namun sebenarnya sudah lama dalam hati mereka berdua bahwa keduanya ada kecocokan dalam berpikir, bercakap-cakap, dan dalam menghadapi hidup. Ketika mereka berdua pulang ke Jakarta, mereka tidak berkata-kata tentang hal tersebut. Mereka berpikir sendiri-sendiri. Yang nyata terjadi adalah bahwa kemudian Maria meninggal dunia di Pacet, dan kedua insan yang mencintainya – Yusuf dan Tuti – yang sudah disatukan oleh cinta mereka kepada Maria kemudian bertunangan. Perkawinan kedua insan itu kemudiannya, bukan untuk bersenang-senang… “dunia kita adalah kerja, Yusuf…”. Pada hakikatnya dalam roman ini, pelaku utama terpenting adalah Yusuf dan Tuti, dua pemuda yang memenuhi harapan dan cita-cita pengarangnya – Sutan Takdir Alisyahbana – untuk mengisi pembangunan bagi Indonesia Baru. Merekalah yang membentangkan layar  sehingga terkembang .               
BAGIAN PENTING KONFLIK SUMARTINI >< ROKHAYAH DLM BELENGGU
Dialog berikut sangat menarik dalam roman Belenggu ini.
            Tini memandang Rokhayah dengan sikap merendahkan, lalu memandang ke papan nama. Rokhayah mengikuti pandangan  Tini, lalu tersenyum simpul . “Itu nama saya , nyonya. Bukankah nama dapat diganti-ganti. “Tini tertarik hatinya. Pantas Tono tertarik. Tidak benar ia penyanyi kroncong. Tingkah lakunya tertib. Rokhayah naik tangga. Tini menuruti ajakan Rokhayah untuk duduk. “Nyonya Dokter ?”
“Aku? Akulah isteri Dokter Sukartono !” Rokhayah terkejut.   Tetapi hanya sekejap saja, kemudian tersenyum. Saya senang berkenalan dengan nyonya. Saya sudah lama merasa, kita mesti juga akan berkenalan !” Dengan sinis Tini menjawab: “Berkenalan ? Aku datang bukan untuk berkenalan. Mana mungkin perempuan baik-baik suka berkenalan dengan perempuan seperti engkau!”.
            “Katakanlah nyonya dengan terus terang. Dalam kalangan perempuan baik-baik kata itu buruk terdengar, tetapi telinga kami, nyonya sudah biasa mendengarnya. Katakanlah dengan terus terang saya ini perempuan jalang. Kalau hendak membungkusnya juga dengan kain sutera, katakanlah aku sebagai: bunga raya!”
            “Engkau…..!” Yah marah “Teruslah ber-engkau-engkau, nyonya ! Memang saya lebih rendah dari nyonya. Nyonya adalah nyonya Dokter, boleh naik mobil sendiri, berumah bagus, hidup senang. Katakanlah apa saja kehendak Nyonya !”
            Tini hati-hati “Siapa sebenarnya kamu ?” Yah dengan terkendali “Seperti tertulis di papan nama…Saya Siti Rokhayah.Dulu Tono, eh, Dokter Sukartono, suami saya, tetangga saya di Bandung. Waktu itu kami sekolah rendah, selisih tiga kelas.Baru-baru ini kami bertemu lagi, kebetulan saja. Jangan marah.Dia tidak akan terpikat jaringku kalau nyonya baik !”
            “Memang kau lebih pandai, sudah biasa menangkap sembarang laki-laki !”
            “Katakanlah sebarang kata. Keadaan tidak akan berubah. Dia memang suami nyonya. Tetapi kasihnya tersangkut pada saya. Nyonya boneka yang tidak berdaya. Memakai permata, tetapi tidak tahu menghargainya…”
            “Engkau hendak memberi nasihat ? Engkau perempuan jal……!”
“Kata-kata nyonya membuat kuping merah.Ingatkah nyonya ketika masih sekolah, ada seorang Mahasiswa Teknik membawa nyonya ke tempat pelesiran ?”
          “Dari mana kau tahu ? Tono yang memberi tahu ?”
          “Bukan…Sopir itulah yang memberi tahu. Dan juga seorang perempuan tua !”
          “Sudahlah !” Tini nampak sangat terpukul karena itu dosa masa muda.
          “Maafkan saya, nyonya. Saya tidak akan menyinggung hal itu kalau nyonya tidak menghina saya. Kalau engkau memelihara Tono baik-baik, kau turut kemauannya, kesukaannya yang kecil-kecil, dia tidak akan datang kepadaku !”
          “Boleh jadi !” Kata Tini penuh keraguan.

          Setelah peristiwa itu, Tini merasa salah. Karena itu, Tini menyerahkan Tono kepada Rokhayah. Rokhayah tidak mau menerima karena ia tidak mau berbahagia di atas penderitaan orang lain. Begitu juga Dokter Sukartono. Ia tidak mau menyakiti hati kedua orang yang pernah dicintai itu. Pada akhirnya ketiga orang itu saling berpisah untuk menghilangkan belenggu egoisme mereka. Dokter Sukartono memperdalam ilmu kedokteran, Sumartini pergi ke Surabaya, sedangkan Rokhayah pergi ke New Kaledonia.   Akhir cerita ini menunjukkan penyelesaian yang banyak menimbulkan kontradiksi. Cinta segi tiga belum tentu selesai oleh perpisahan di antara mereka. Mungkin justru kompromi adalah penyelesaian  terbaik, sebab cinta tidak dapat dihalangi oleh perbedaan kota tempat tinggal. Jika cinta masih ada, Rokhayah dan Sukartono pasti masih berjumpa juga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar